UMI

Hai, aku kembali.

Rasanya sudah setahun lebih tidak menulis disini. Aku rasa sudah saatnya mengisi jurnal kehidupan disini. Jujur, 2019 adalah tahun terberat dalam hidupku. Sebuah peristiwa yang Allah sudah gariskan di kehidupan setiap manusia yaitu kematian terjadi tanpa pertanda yang nyata.

28 April 2019, aku kehilangan ibuku. Mungkin tidak banyak yang tahu betapa aku menyimpan rapat penyakit yang umi derita selama 10 tahun kebelakang. selama itu aku menjadi caregiver cancer survivor ibuku sendiri. Ada yang berkata kehilangan adalah fase yang pasti terjadi pada suatu kehidupan itu benar adanya. Pada saat itu terjadi, aku mendapatkan serangan panik pertamaku. Rasanya bumi gonjang-ganjing dan separuh jiwaku hilang dirampas. 

Satu minggu sebelum ramadhan, Allah ambil penyemangat sekolah magisterku. sebagai manusia yang baru kehilangan umi, aku mengalami setiap fasenya sesuai dengan teori. Aku tidak peduli fase apa yang sekarang sedang dialami, namun menurutku selalu ada tempat untuk kemajuan. Salah satunya seperti tulisan ini, aku membuktikan bahwa sedih dan duka selalu menemani namun tidak menghalangi langkahku mencapai tujuan.

Seorang dosenku pernah menceritakan kehilangan suaminya dikelas, saat itu aku mendengarkan dengan tertegun dan berusaha berjanji dalam hati bahwa jika kehilangan adalah milik semua manusia dan pasti akan terjadi. Beliau secara tidak langsunglah yang mengajarkan aku dengan cepat untuk tetap tegar dengan mengedepankan keinginan untuk lulus dengan tepat agar bisa membantu orang lain yang membutuhkanku.

Hari ini tepat 8 hari sebelum beliau dipanggil dan dua kali ia datang ke mimpiku. Dia bercerita bahwa sudah pulih dari sakitnya dan bekerja lagi namun tidak ada yang menjemputnya. aku senang, selama ini beliau sudah hadir 5 kali dalam mimpiku. maafkan mbak Tya yang jarang berdoa dengan khusu' tapi setiap waktu ketika rindu Al-Fatihah selalu terucap dalam lirih.


Rindu umi selalu,
Tya



Komentar

Postingan Populer