Sky Castle korean drama series, sebuah gambaran helicopter Parenting

"We are liee tell you the truth…"

Lalu muncullah senyum-senyum creepy pelatih Kim yang bikin gue gregetan sepanjang episode. Lirik ini merupakan salah satu lagu yang iconic di drama Korea yang booming beberapa waktu belakangan ini yaitu “sky castle”.  

ratingnya ngalahin goblin


Berbeda dari kebanyakan drama korea yang biasanya terdiri dari 4 tokoh utama (mostly 2 pasang laki-laki dan perempuan), Sky Castle menampilkan 5 tokoh utama perempuan yang rada berumur tapi masih cantik2 banget dalam hal mendidik anaknya, kita manggilnya ahjuma lah ya. Hehe

Biasanya kita disuguhkan cinta-cintan dan ya dua pasang itu saling berebutan pasangan atau ya mirip-mirip gitu. Nah kalau drama korea yang ditayangkan di Netflix ini menyuguhkan drama mengenai orang tua yang memiliki obsesi  terhadap keberhasilan anaknya dalam hal akademis. Major theme yang diungakp mirip dengan jenis gaya parenting yaitu  Helicopter Parenting. Helicopter Parenting pada intinya seperti helicopter yang selalu berada diatas dan memiliki baling-baling dimana artinya orang tua berusaha mengawasi anak-anak layaknya helicopter hingga memunculkan perilaku yang berlebihan seperti, overprotecting, overperfecting dan overcontroling terutama dalam hal akademik.

https://hhsthehub.com/news/2015/10/05/hovering-doesnt-help-helicopter-parenting/


Drama ini diawali dengan jamuan yang dilakukan oleh salah satu ibu  yang tinggal di perumahan elite atas keberhasilan anak tetangganya yang masuk kedokteran di universitas bonafid di Korea. Namun jamuan ini dilakukan semata-mata karena Han Seo-jin tersebut ingin mendapatkan bocoran cara anak tetangganya tersebut yang keterima di FK agar ia bisa memasukkan anaknya ke sana juga padahal ia baru saja kelas 10 SMA. Fenomena ini juga terjadi di korea, dimana anak-anak sangat berupaya dan berambisi untuk memasuki fakultas kedokteran atau kampus bonafid supaya mereka bisa mudah mendapatkan pekerjaan dan  mempersiapkan itu dari Kelas 10. Gils gils gue salut sekaligus miris liatnya. Walaupun hal yang dilakukan untuk mencapai itu masih dibilang lebih halal karena belajar yang rajin dan ikutan les dibandingkan dengan di Indonesia yang “pake orang dalam style”.

nonton aja deh guys

han seo jin yang awalnya memecat pelatih kim namun terpaksa rehiring karena ingin anaknya masuk Fk atas desakan ayah dan mertuanya

Selama menonton 20 episode ini konflik yang terjadi banyak banget terus bikin kepala sakit plus nyesek. Karena ya itu, sangat dikondisikan untuk mempersiapkan anaknya menjadi sempurna seperti yang mereka mau. Nilai turun dikit bisa marah-marah kayak abis ngilangin taperwer. Gue nontonnya ngebatin mulu, jangan sampe aku begitu ya Allah. Konflik Gongnya terjadi ketika Han Seo-jin dipilih oleh pelatih Kim yang bersedia membantu anaknya agar masuk ke Kedokteran, lama kelamaan terungkap kalau ternyata dese neurotis akut, pernah masuk penjara karena merencanakan pembunuhan suaminya dan memiliki anak yang mengalami brain injury padahal sebelumnya anaknya pinter banget. Hebatnya suami dan mertuanya seolah menutup mata diawal sampai akhirnya si anak sadar kalau yang dilakukan itu salah banget dan nyaris mengguncang psikis anak.

Jadi ada banyak banget kasus-kasus psikologi nih yang bisa diungkap pada drama sky castle ini, tapi yang mau aku bahas terlebih dahulu adalah gaya parenting yang tanpa disadari dilakukan oleh orang tua  yang melahirkan millennial which is yang seumur gue lah ya, alih-alih sangat bersikap seolah menyayangi tapi malah terlalu melindungi terus sangat mengatur dalam hal akademik. Pada drama korea ini tergambar dengan sangat jelas orang tua bahkan nenek mencapuri urusan akademik anak, pokoknya 3 generasi harus jadi dokter, mau gimanapun sampe ngebunuh gitu biar saingannya berkurang. Kurang lebihnya begitu ketika helicopter parenting orang tua si anak dicampur dengan perilaku pelatih kim yang sepertinya mengarah ke perfectionist, semuanya jadi sangat rigid dan zero mistake plus menyeramkan.

Balik lagi ke helicopter parenting, kalau kamu bingung sama apa sih itu, nah tonton drama korea ini, mungkin aja kamu merasakan hal yang sama dulu?
Disatu sisi, setiap orang tua pasti menginginkan anaknya berhasil dan ini pasti efeknya bisa leha-leha dihari tua, tapi jika dilakukan dengan cara yang salah seperti hovering your kids, pasti jadinya gak baik bahkan bisa mempengaruhi anak secara psikis. Beberapa cerita dikehidupan sekitar gue, anak dengan didikan seperti itu akan sulit bahkan suka gak tau apa yang ia mau, karena semua udah diatur orang tuanya. Tapi kalau orang tua jaman now, yang melahirkan generasi Z agak mengalami kelonggaran dalam membentuk anak karena cita-cita anak jaman now menjadi lebih beragam. Hayo coba diinget-inget pas masih kecil cita-cita kita berkisar, dokter, tentara, guru, pilot dan astronot. Typically most of millenials pasti jawabnya itu ketika kecil. bener gak?

Ciri-cirinya supaya lebih jelas aku ambil sumbernya dari sini 
ya http://www.earesources.org/tag/helicopter-parenting/ 





Efek yang ditimbulkan, aku ambil dari sini ya 
hehe https://relationmeans.com/negative-effects-of-helicopter-parenting/
  1. It does create the resentment: dengan kondisi seperti ini anak bisa menjadi rebel/sulit diatur karena tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan skills sesuai dengan yang dia mau.
  2. Kids are more fearful and have distrust in strangers: lebih mudah merasa takut terutama saat berbuat salah dan sulit banget percay sama orang lain.
  3.  Lack of social and problem-solving skills: karena semuanya sudah diatur layaknya boneka dan diawasi dari atas, anak merasa solving kills tidaklah penting.
  4. Kids feel entitled: anak merasa bisa menjadi apapun dengann cara apapunn 
  5. More health problems: anak yang diawasi berlebih bisa lebih rentan terkena masalah mental karena semua checklist perekembangannya tidak dilalui sendirian. 
  6. Anxiety and depression: efek karena merasa takut salah langsung dari cemas menembus depresi. 
  7. Lack of confidence: ya jelas tidak memiliki kepercayaan diri karena terlalu diatur oleh orang tua dan merasa aman-aman saja. 
  8. Issues of dependency: jadi bergantung dengan orang lain karena telah terbiasa diawasi.
  9. Staying aggressive and meanness: karena orang tua bisa selalu back up anak menjadi lebih less behave.
  10.  Effects of the brain growth and development : mirip dengan faktor psikologis, faktor biologispun terkena efek dari hovering ini. 
  11. The hurdle in decision making: kasian ya, tidak memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan, karena semua kan sudah diatur, terlebih masalah akademik.
  12. Change in behaviour: sangat cepat berubah perilakunya karena merasa punya aman.


Jadi, kalau kamu ingin meneliti mengenai parenting style bisa banget nonton Sky Castle ini, karena relate banget sama kehidupan per-orangtua-an terutama yang jadul banget ya. sebenernya banyak banget yang mau gue ungkap, tapi perlu riset dan memastikan lagi, gangguan apa lagi kah yang mnuncul. Semoga terbantu dan janganlah jadi orang tua yang terlalu mengatur, pernah denger cerita kalau anaknya sampe diancem-ancem kalau gagal. sumpah aku sedih, anak itu gak minta dilahirkan dari rahim orang tua, tapi orang tualah yang memintanya dengan usaha dan doa. 


anak bukan investasi, tapi anugerah dari tuhan. 
stop hovering your kids. 

Komentar

Postingan Populer